Salim A. Fillah: Hidup di Zaman Apa?

Salim A. Fillah

(Penulis Buku Islami)

MALAM tadi aku teringat kalimat lembut seorang sesepuh, pada suatu masa yang keadaan hari ini tak terbayang sama sekali.

“Aku hidup di zaman ketika Majelis Syura Muslimin Indonesia dibubarkan, saat Dr. Mohammad Natsir yang lembut maupun KH Isa Anshari yang tegas sama-sama ditangkap, kala Kasman Singodimedjo yang cergas maupun Buya Hamka yang teduh sama-sama dipenjara.”

“Aku hidup di zaman ketika Kyai-Kyai dan Pesantren-pesantren, Ndara-ndara dan Juragan-juragan, para pegawai serta semua yang tak menyetujui sebuah haluan politik dikutuk, difitnah, diancam, serta dijatuhkan melalui siaran radio dan koran-koran, melalui karya sastra dan ketoprakan.”

“Aku hidup di zaman ketika orang beragama dituduh tak cinta negara; padahal bersebab pekik mengagungkan Tuhanlah negeri ini merdeka, atas berkat rahmat Allah; bukan karena ayat-ayat Marx, Lenin, atau Mao.”

“Aku hidup di zaman ketika Himpunan Mahasiswa Islam hendak dibredel atas desakan CGMI dan GMNI, lalu kami anak-anak Pelajar Islam Indonesia bahkan yang belum baligh turun ke jalan berteriak, ‘Langkahi Dulu Mayat Kami, Kalau Mau Bubarkan HMI!’, sambil bernyanyi:

Mengenangkan nasib perjuangan,
Sebangsa dan setanah airku,
Aku meninggalkan kemewahan,
Aku maju terus berjuang

Jangan kembali pulang, PII!
Jika tiada kau menang,
Walau mayat terkapar di medan juang,
Tuk Islam, PII berjuang

Tinggallah ayah, tinggallah ibu,
Relakan daku pergi berjuang,
Di bawah kibaran panji Islam,
Hingga Islam capai kemenangan

“Aku hidup di zaman ketika Aris Moenandar dan Margono, murid sekolah menengah di Yogyakarta, ditembak Tjakrabirawa mendahului Arief Rahman Hakim di Universitas Indonesia; di Gedung Baperki (Badan Perkumpulan Keturunan Indonesia), yang kini dinamai ARMA-11, singkatan nama mereka.”

“Dan kamu? Kamu hidup di zaman apa?”