Kontroversi RUU Pertembakauan, Dinilai Hanya Untungkan Industri Rokok dan Abaikan Dampak Buruknya Pada Masyarakat

JAKARTA (UMMAT Pos) — RUU Pertembakauan dinilai lebih berpihak pada kepentingan bisnis dan tidak memperhatikan dampak buruk konsumsi tembakau pada lapisan masyarakat, terutama generasi muda.

Penolakan atas RUU Pertembakauan pun disuarakan sejumlah organisasi seperti Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia, Yayasan Jantung Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Kongres Wanita Indonesia, Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia, Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) serta beberapa organisasi atau perkumpulan lain.

Salah satu pihak yang menentang RUU Pertembakauan, Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) menyebutkan dalam RUU ini akan meningkatkan produksi rokok (pasal 3), memperbolehkan penjualan rokok melalui mesin rokok layan diri (pasal 47) dan mengembalikan peringatan kesehatan bergambar menjadi teks (pasal 50).

“Hal itu tentu bertentangan dengan upaya perlindungan kesehatan yang sudah dibangun sejauh ini,” tulis GKIA dalam surat Penolakan Atas RUU Pertembakauan kepada Presiden Joko Widodo.

Juga pasal 50 yang dinilai memfasilitasi para perokok, “Pengelola tempat kerja dan tempat umum wajib menyediakan tempat khusus untuk mengkonsumsi Produk Tembakau,”

Secara umum, GKIA memandang tujuan utama RUU Pertembakauan merupakan upaya industri rokok untuk meningkatkan produksi rokok dan memperlemah upaya pengendalian konsumsi rokok.

GKIA dalam suratnya ke Komisi I DPR RI, 3 Juli 2017 ¬†juga menyayangkan dan menyatakan keprihatinan atas langkah Badan Legislasi (Baleg) DPR RI melalui rapat harmoniasasi pada tanggal 19 Juni 2017 yang menghilangkan kata “rokok” dalam frase larangan mempromosikan minuman keras, rokok dan zat adiktif lainnya dalam pasal 137 ayat 2 butir i RUU Penyiaran Penghapusan Larangan Iklan Rokok dari RUU Penyiaran dan menyebutnya sebagai sebuah kemunduran yang akan menghambat perlindungan maksimal masyarakat dari pengaruh paparan promosi rokok.

Rokok memang penyumbang pendapatan cukai terbesar pada 2016. Data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada 2015 menyebutkan pendapatan cukai dari rokok mencapai Rp139 triliun. Namun, pendapatan tersebut tidak menutupi biaya yang dikeluarkan untuk penyakit akibat rokok mencapai lebih dari 370 triliun.

Sampai saat ini, RUU Pertembakauan masih dalam kajian antarkementerian. Kementerian Kesehatan menyatakan telah menolak RUU ini.[fm]